Renungan : Ilustrasi seorang Pemuda & Cincin Emas

Renungan : Ilustrasi seorang Pemuda & Cincin Emas

Renungan pada Homili Misa Harian pagi 30 April 2020 oleh Rm Anton Gunardi, MSF.  berdasarkan bacaan Injil pagi itu mengenai Filipus dan Sida sida dari Etiopia yang menyangsikan apakah mereka sanggup menjalankan firman Tuhan jika tanpa bimbingan Tuhan. dan di katakan pula Barangsiapa makan roti kehidupan tidak akan mati karena akan bermakna kehidupan Kekal. bukan berarti kita tidak akan menemui kesulitan hidup.

Kebangkitan Kristus adalah Anugerah terbesar bagi manusia yaitu Roh Kudus yang memimpin kita pada kebenaran untuk dapat memahami Firman Allah agar dapat menjalankan kehendaknya di dalam kehidupan ini.

Rm Anton juga meberikan sebuah ilustrasi, ada seorang pemuda yang mengalami kekecewakan karena selalu di bandingkan dengan pemuda yang lain dan selalu di nilai oleh teman temannya, sehingga dia memutuskan untuk menemui seorang rahib tua di sebuah biara, dan Rahib itu berkata akan membantu si pemuda tapi menginginkan si pemuda untuk membantunya terlebih dahulu. Rahib tsb menyuruh si pemuda untuk menjualkan sebuah cincin kepada tukang sayur dan tukang daging utk harga yang tidak lebih dari 10 keping emas, Pergilah si pemuda itu ke penjual sayur namun cincin itu hanya di hargai 5 keping perak, di penjual daging hanya 10 keping perak lalu kembalilah dengan kecewa si pemuda itu kepada Rahibnya  dan menceritakan hal telah terjadi.

Rahib menyuruhnya pergi ke penjual perhiasan. sesampai di sana di bersihkanlah cincin itu dan di gosoknya sampai mengkilat dan dikatakannya kepada pemuda itu bahwa itu adalah cincin yang dia buat saat itu di jualnya kepada bangsawan seharga 100 keping emas mungkin saat ini sudah berharga 200 keping emas, terkejutlah sang pemuda itu dan kembali lagi kepada sang Rahib. Ternyata cincin itu adalah sumbangan seorang bangsawan kepada biara itu dan memang harganya sangat mahal.

Rahib memberi satu hal pelajaran : Janganlah hidupmu di tentukan oleh perkataan orang lain karena orang lain tidak tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Cincin emas ibaratnya adalah si pemuda, si penjual sayur dan daging adalah orangtua dan teman temannya, Si penjual perhiasan adalah Tuhan yang tahu siapa sebenarnya si pemuda itu yang akan membersihkan dan membuatnya mengkilat dan bersinar laksana emas. Dan itulah kehidupan kita.

Kita pernah mengalami seperti ilustrasi di atas,  dan memasuki bulan Maria ini Rm Anton mengajak Paroki kita untuk memaknai kehidupan ini. Karena kita sangat bermakna dan berarti di mata Tuhan