Berkembangnya Stasi Menjadi Kuasi Paroki

Agar pelayanan bagi umat di perumahan ini lebih efektif, mereka membagi menjadi tiga kring (sebutan Lingkungan waktu itu). Masing-masing kring diketuai oleh Constansius Sumardi, Fx. Haryadi, dan R. Suradi Prawirosudarmo. Koordinator dari ketiga kring tersebut adalah RP. Dirdjowinoto (dibantu oleh Fx Sardjono sebagai Sekretaris dan Yulius Kasdjono sebagai Bendahara).

Umat menyadari bahwa rumah Bapak Notodihardjo sebagai tempat ibadah kurang memadahi. Sebagian besar warga menginginkan gereja yang luas untuk beribadah umat yang banyak. Yohanes Totok Sugiyantoro ketika itu menjadi tokoh Pemuda Katolik, pada awal Maret 1979 merintis pencarian tanah untuk bangunan tempat beribadah (gereja), dan berkat usahanya dapat membuahkan hasil.

Tanggal 26 Juli 1979 dibentuk Panitia Pembangunan Gereja, Bapak Robertus Djumadi terpilih sebagai ketua pembangunan, memiliki anggota yaitu Agustinus Sukarno, Petrus Kusuma Wirawan DE, RC. Suprapto, dan Yulius Kasdjono. Panitia berusaha untuk mewujudkan gedung Gereja. Usaha dan kerja keras panitia terealisasi dengan ditandai peletakan batu pertama pada 22 Januari 1980. Yang akhirnya sekarang ini menjadi gereja Santo Yusuf Pekerja Condongcatur. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Romo K. Wiryodarmojo Pr, saat itu sebagai Vicaris Episkopal DIY.

Dalam rapat Panitia Pembangunan Gereja, 13 Februari 1980 mencapai kesepakatan untuk memilih Santo Yusuf Pekerja sebagai nama Pelindung Stasi Condongcatur. Beberpa bulan kemudian perayaan Ekaristi Sabut sore dari rumah Notodihardjo berpindak ke gedung Gereja.

Setelah menempati gedung Gereja baru sebagai tempat ibadat resmi, dibentuklah pengurus perdana Dewan Stasi. Terpilih Agustinus Sukarno sebagai Ketua. Pada 19 Februari 1980, Kardinal Justinus Darmojuwono mendirikan Yayasan Gereja Katolik yang dinamakan “Pengurus Gereja dan Papa Miskin Room Katolik di Wilayah Gereja Santo Yusuf di Condongcatur, Yogyakarta” (SK per 19 Februari 1980). Gedung gereja ini diberkati dan diresmikan oleh Kardinal Justinus Darmojuwono pada 3 Mei 1981.

Semenjak bulan Juli 1982 dengan bantuan pastor-pastor OMI, umat katolik bisa mengikuti perayaan Ekaristi harian setiap jam 05.30. Mulai bulan April 1984 perayaan Ekaristi diadakan pada Sabtu Sore dan Minggu Pagi.

(Sumber: PPDP Paroki Minomartani)