Sentuhan Tangan Tuhan Memantapkan Bu Hari Membuka Warung Berbagi

[Parokiminomartani] – “Tangan Tuhan selalu menyertai  dan menolong niat dan rencana saya untuk berbagi dengan sesama,” begitu yang dikatakan Ibu Gabriel Elisabeth Murtiari Dwi Susanti atau yang lebih dikenal dengan sapaan bu Hari, umat di Lingkungan Santo Ignatius, Wilayah Korintus, Paroki Minomartani, saat ditanya perihal motivasinya membuka warung berbagi.

Di Warung yang menyatu dengan rumah Bu Hari di Jalan Gurameh Raya A-5, Perumnas Minomartani, Ngaglik, Sleman ini, setiap tamu yang datang dapat makan sepuasnya, namun membayar seikhlasnya. Tamu cukup membayar dengan memasukan uang seikhlasnya dalam kotak yang diletakkan di warung ini.

Sentuhan tangan Tuhan yang pertama adalah dukungan anak-anaknya yang kini sudah mentas semuanya. “Usaha ini memang saya danai dari hasil tabungan saya selama ini. Karena dulu saya membuka usaha toko roti. Tapi ternyata anak-anak saya juga selalu membantu. Kalau beras atau kebutuhan lainnya habis, selalu dibeli anak-anak saya.”

Yang kedua, sambung Bu Hari, saat dirinya masih kesulitan mencari tenaga pembantu untuk mendukung usahanya, tiba-tiba datang kakaknya yang sudah lama tidak bertemu. “Saya langsung mengajak kakak saya tinggal bersama saya. Dan kakak saya ini sungguh menjadi malaikat pembantu bagi saya,” ujar Bu Hari yang mengaku kini telah berusia 72 tahun.

Sentuhan tangan Tuhan berikutnya yang dirasakan adalah datangnya tawaran dari kenalannya untuk memakai meja dan kursi yang dulu pernah digunakan untuk warung. “Ceritanya dulu kenalan saya itu membuka usaha warung tapi kemudian bangkrut. Warungnya hanya sewa. Mau dibawa ke rumah ternyata rumahnya sempit. Jadi dititipkan sementara di rumah saya dan saya juga diperbolehkan kalau mau pakai.”

Semua kemudahan ini dirasakan sebagai rahmat Tuhan yang memang menghendakinya untuk segera membuka warung berbagi. “Saya Jadi tambah mantap untuk secepatnya membuka usaha ini. Apalagi saya ini hanya bisa memasak. Kalau disuruh lainnya saya tidak bisa. Organisasi saya tidak paham. Dan saya ini orang rumahan. Lebih senang di rumah daripada jalan-jalan. Jadi tambah mantap bikin usaha warung.”

Di warung berbagi ini kita akan menemukan banyak sekali spanduk yang bertuliskan “Makan secukupnya, bayar seikhlasnya”. Tulisan ini memang dimaksudkan Bu Hari agar setiap tamu yang datang bisa mengambil porsi makanan sesuai dengan porsi yang bia dihabiskan. Karena Bu Hari sangat sedih jika ada yang mengambil makanan tetapi tidak menghabiskannya.

“Mangga silakan ambil nasinya. Silakan pilih lauk dan sayurnya. Tetapi sebaiknya porsinya disesuaikan sehingga tidak ada yang sisa. Kasihan di luar sana masih banyak orang yang makan sehari sekali saja masih sulit. Mari kita bersyukur atas pemberian Tuhan dengan tidak membuang-buang makanan yang diberikan kepada kita,” kata Bu Hari.

Warung Berbagi milik Bu Hari buka tiga hari dalam seminggu, yakni Senin, Rabu dan Jumat. “Hari lainnya saya istirahat. Saya juga sering olahraga dengan ibu-ibu  di sekitar sini. Kami joging pagi hari, muter-muter sekitar perumahan. Untuk jaga kesehatan. Jadi seminggu hanya buka tiga hari. Tidak bisa ngoyo, sudah sepuh,” kata Bu Hari sembari tersenyum. (Fr. Fransiskus Ferdy Turnawan, MSF)

Paroki Minomartani