June 24, 2024

Cerpen Renungan: Waktu

[Parokiminomartani] –  Sudah sejak pagi si Dul bangun dan membuat kopi tubruk meski dengan kantuk-kantuk. Beberapa kali si Dul melihat jam yang sudah menujuk angka tujuh maka dia buru-buru menyiapakan kopi tubruk. Tinul yang baru bangun heran kok si Dul sudah siap semuanya “…kebiasaan kamu itu Nul… selalu bangun terlambat… lihat sudah jam berapa itu… nanti terlambat buat sarapan…” tegus si Dul yang lihat Tinul masuk dapur

Tinul :” ga terlambatlah Sul…masih jam berapa juga…cukup waktunya..”.

Dul :” cukup apanya ini itu sudah siang ya…lihat tho jam berapa itu…”.

Tinul sambil senyum :” makanya kalau bangun tidur itu cuci muka dulu biar bisa lihat jam dengan benar…”.

Dul :” lha aku itu lihat jam dengan benar lho kalau sampai salah itu bukan aku yang salah tapi jamnya yang salah…yang mati…”.

Tinul :” ya emang benar jamnya yang mati…ditambah kamu belum cuci muka jadinya ya seperti ini…”

Dul :” seperti ini piye Nul…”.

Tinul : “coba delengo…opo ono jam 7 pagi masih gelam di luar sana…matke kanti cetho”

Dul :” woooo iya kak iseh gelap ya Nul…opo motoku sing salah ya…”.

Tinul :” ya dua-duanya…matamu ga salah Dul… tapi kesadaranmu yang salah…lha bangun tidur nyawa belum penuh lihat jam yang mati ya jadinya seperti ini….jam diding itu mati ya Dul…ga jalan sejak tadi malam jam 7 an..”.

Dul :” waaaaah…semprul tenan… pantes aja kok dari tadi kamu sama Gombloh ga keluar keluar dari kamar … wis jan… waktu itu kalau ga diperhatikan dengan baik jadinya salah kaprah… mbok diperbaiki jamnya Nul …biar ga salah kaprah gini…”

Tinul :” hhhhh…yang diperbaiki itu bukam jamnya Dul tapi kita manusianya, karena waktu itu pasti selalu tepat dan terus berjalan, hanya saatnya kapan waktu kita berhenti kita ga tahu. Selama waktu yang diberikan pada kita masih berjalan itu berarti kita diberikan waktu untuk memperbaiki semuanya, waktulah harta yang sebenanrnya paling berhaga dalam hidup kita…”

Dul :” ya Nul…kalau salah lihat waktu jadinya kopi tubruknya sudah dingin begini… wis ora nendang lagi kopinya…”

Tinul :” ya sini kamu tak tendang biar bangun dan sadar….hhhhhh….”

Met pagi…semoga Tuhan memberkati hidup dan karya kita. (Senin, 2 September 2019, Romo Andita)

Paroki Minomartani