July 13, 2024

Cerpen Renungan: Dipakai Tuhan

[Parokiminomartani] –  Sambil melipat baju yang telah kering dijemur si Dul bernyanyi, “Kutahu rumus dunia, semua harus berpisah tetapi kumohon tangguhkan tangguhkanlah…”. Tinul yang mendengar si Dul menyanyi langsung menyahut lanjutan syair yang dinyanyikkan si Dul, ” kalau sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga… weeeh lagumu kok sedih tho Dul … nglempit baju karo nyanyi sedih…seperti film india ….”.

Dul :” …ora sedih ya Nul …itu kenyataan ya …mung waktu aja yang tersisa…”.

Tinul :” lha iya Dul… hanya waktunya juga tidak semakin panjang tapi semakin menipis…”.

Dul :” coba semakin panjang….dari hari ke hari waktunya itu semakin berkurang je… bertambah bukan untuk semakin panjang waktunya tetapi justru semakin menipis waktunya…”.

Tinul :” iya ya Dul….”.

Dul :” lha iya Nul… lha rumangsamu kalau kita bangun pagi berarti waktu kita bertambah po… ya ga waktu kita berkurang….masih bersyukur Nul kalau pagi bisa terjaga bangun… lha kalau kita bangun tapi tidak merasakan apa-apa piye… berarti habis waktu kita Nul…”.

Tinul :” weeeh… ora meden medeni tho Dul…”.

Dul :” bukan menakut nakuti Nul… ini kenyataan… coba lihat baju yang aku lipat ini… kalau aku masih suka pasti akan  aku rawat dan pakai lagi tapi kalau sudah tidak suka yang ga aku pakai lagi … hidup kita seperti itu Nul di hadapan GUSTI…”.

Tinul :” berarti kita saat ini masih dipakai GUSTI ya Dul… njuk dipakai untuk apa Dul “.

Dul :” nah ini yang penting Nul… ibarat baju kalau dipakai itu melindungi dan memberikan rasa nyaman dan keindahan bagi yang memakainya…kita seperti itu Nul…”.

Tinul :” terus yang memakai kita siapa Dul…”.

Dul :”…orang yang paling dekat dengan kita…orang yang kita sayangi dan yang menyayangi kita ya kita betiga ini yang saling memakai… makanya aku itu berusaha untuk membuat kalian bahagia meski harus berkorban untuk menahan rasaku pada dik Asih…”

Tinul :” lha kenapa Dul :”

Dul :” waktu yang diberikan untuk bersama dengan kalian itu paling berharga Nul… aku ga mau kehilangan waktu itu…”.

Tinul langsung mencium kening si Dul :” muuuah… makasih ya Dul….”.

Dul :” sama-sama Nul… wis ayo masak keburu siang nanti….”.

Tinul sambin jalan ke dapur bernyanyi  :” bukan aku mengingkari apa yang harus terjadi tetapi kumohon kuatkan kuatkanlah…”.

Dul :” wis Nul… ayo tho…”.

Met pagi….semoga Tuhan memberkati hidup dan karya kita. (Jumat, 26 April 2019, Romo Andita)

Paroki Minomartani