Cerpen Renungan: Kekayaan di Hati

[Parokiminomartani] –  Tinul sengaja tidak ke pasar untuk membeli sayuran tetapi menunggu Bu Seger yang bisa menjual sayuran keliling kampung. ” belum juga lewat ya Nul…bu Segernya..” tanya si Dul yang pergi mau membuang sampah

Tinul :” belum je Dul paling juga bentar lagi lewat….”.

Dul :” lha mbok wis beli di warung mbakyu Darmi Nul… kalau kamu ga mau ke sana… sini biar aku saja yang ke warung mbakyu Darmi..”.

Tinul sambil senyum :” hmmm…kamu ini Dul…Dul…seneng kalau pagi-pagi ke warung mbakyu Darmi … mau belanja…atau mau belanja Dul…hhhhh…”

Dul :” ya belanjalah Nul… emang mau ngapain kalau bukan belanja…”.

Tinul :” ayak…kayak aku ga tahu Dul… Dul… kalau jam segini dik Asih ya di warung mbakyu Darmi … itu yang kamu mau..”.

Dul :”hhhhh… kan sekali dayung dua pulau terlampaui Nul…”.

Tinul :” heleh… heleh… Dul… Dul… wis ga usah aneh aneh… tak nunggu Bu Seger… seneng je kalau lihat bu Seger meski hanya jualan sayur yang hasilnya tak seberapa itu tapi tetap kelihatan bahagia….”.

Dul sedikit sombong :” itu yang namanya kekayaan tidak tergantung dari hasil yang didapat…”.

Tinul langsung menyahut :” terus tergantung apa Dul…”

Dul :” hmmmm….ya ini harus aku jelaskan ini… gini Nul… seminim atau sekecil apa pun rejeki yang kita dapat sekarang kalau itu kita terima dengan rasa syukur akan menjadi kekayaan yang melimpah di hati kita. Karena bukan banyaknya harta yang membuat kita bahagia, melainkan kerelaaan hati kita menerima dengan ikhlas apa yang diberikan oleh Allah pada diri kita saat ini…gitu Nul…”.

Tinul :” weeeh kok pinter kowe Dul…”.

Dul :” ooooo… Kasdulah… pasti pinterlah… kalau ga pinter ga mungkin dik Asih rela menunggu aku….”.

Tinul :” huuuek… nunggu kamu buang sampah iya… wis sana buang dulu sampahnya…”

Met pagi…..semoga Tuhan memberkati hidup dan karya kita. (Rabu, 5 November 2019, Romo Andita)