April 22, 2024

Cerpen Renungan: Kesucian Berawal dari Kebaikan dan Kebenaran Hati

[Parokiminomartani.com] – Pulang membuang sampah, Gombloh langsung menuju dapur menemui Tinul, ” Nul … Tinul .”

Tinul: “Eiiiiit … jangan masuk dapur kalau dari TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) … cuci tangan dan kaki kalau perlu cuci muka baru masuk.”

Gombloh: “Ga kamu suruh mandi sekalian Nul biar bersih semuanya.”

Tinul: “Boleh juga … tapi nanti ga sarapan ya … lha suruh bantu masak ki malah mau mandi.”

Gombloh: “Hhhhhhhhhh … siap Bu Bos.”

Sesaat kemudian Gombloh masuk dapur setelah cuci tangan kaki dan muka. “Ini sudah sesuai SOP … gini Nul … tadi di TPST aku ketemu mbah Karyo … katanya ada rencana di setiap sudut kampung kita akan didirikan tempat ibadah.”

Tinul: “Waaaah kok elok tenan ya Mbloh … terus jadi apa nantinya kampung kita.”

Gombloh: “Ya jadi kampung suci … biar banyak orang datang ke kampung kita untuk belajar kesucian dan menyucikan diri.”

Tinul: “Lha barusan itu kami mau minta menyucikan diri Mbloh.”

Gombloh: “Iya suci tapi terus ora sarapan.”

Tinul: “Hhhhhh … kan tidak sarapan sama seperti puasa Mbloh … jadi seperti menyucikan diri lho Mbloh … kesucian itu buka dari tempat ibadat Mbloh … karena bagi kita yang hidup dari kedalaman batin yang jernih, kesucian tidak akan muncul dari tempat yang dianggap suci. Justru dari kebaikan dan kebenaran dari hati yang tulus akan menyucikan tempat di mana kita berpijak.”

Gombloh: “Benar Nul … lha banyak orang rajin ke tempat ibadat  tapi hidupnya, tutur kata dan tindakannya justru mencemari tempat ibadatnya … lha hidupnya penuh iri dan benci.”

Tinul: “Wis ora usah menilai orang lain … sekarang saatnya kamu wujudkan kebaikan dan ketulusan hatimu Mbloh … itu panci-panci yang kotor dicuci bersih aja.”

Gombloh: “Siap Bu Bos …. Met pagi … semoga Tuhan memberkati hidup dan karya kita. (Minomartani, Rabu, 15 Agustus 2018, Romo Andita)

Paroki Minomartani