April 22, 2024

Cerpen Renungan: Menanamkan Kebaikan Dalam Tindakan Nyata

[Parokiminomartani.com] – Kemarin saat pulang dari berpergian sama mbakyu Welas, Tinul memang langsung masuk kamar dan tidur sehingga tidak sempat berjumpa dengan si Dul. Maka saat menyiapkan sarapan si Dul langsung menjumpai Tinul di dapur. “Semalam pulang jam berapa Nul kok aku tunggu sampai selesai nonton sepak bola belum datang?”

Tinul: “Pulang malam gimana … aku pulang ketika kamu dan Gombloh sedang nonton sepak bola … karena asyik jadi ga lihat aku pulang.”

Dul: “Masak sih Nul?”

Tinul: “Weeeeh piye tho … lha yang bawa martabak semalam itu siapa Dul?”

Dul: “Hmmmmm … sory … sory … aku kira semalem Gombloh yang beli martabak.”

Tinul: “Kebiasaan … makanan aja yang diingat … memang yang bawa Gombloh tapi aku yang beli … aku berikan Gombloh ketika ketemu di depan waktu Gombloh pulang.”

Dul: “Woooo … sory Nul  … maafkan daku yang ga tahu proses penyerahan martabak … hhhhhh … lha semalem kok ga keluar … langsung tidur ya?”

Tinul :” capek je Dul…bukan capek karena jalannya sih tapi capek telingaku…lha selama jalan tadi kemarin itu hanya dengerin keluhan mbakyu Galuh…”.

Dul: “Hhhhhhhh … sudah aku duga itu Nul ketika melihat mbakyu Galuh ikut rombongan kamu … pasti dia yang dominan omong cuma ya isinya keluhan hidupnya.”

Tinul: “Iya je Dul … lha orang kok sepertinya ga pernah bersyukur ya … pikirnya itu hidupnya tidak pernah diberkati sama GUSTI.”

Dul: “Hhhhhhhh … bukan tidak pernah diberkati Nul … lha hidup yang dia terima aja tidak dianggap sebagai berkat kok … lha piye orang ngeluh sepanjang segala abad amin.”

Tinul: “Iya ya Dul … lha njuk seperti apa sebenarnya Urip sing dikarepke kuwi.”

Duk: “Ya jangan tanya ke aku … tanya sama mbakyu Galuh … tapi yang jelas Nul … namanya berkat dan rahmat itu tidak akan pernah terjadi dalam hidup kita tanpa kita mensyukuri kebaikan yang ada dalam hati dan menanamkan kebaikan itu dalam tindakan nyata meski kecil dan sederhana … lha nak hatinya mung yang jahat-jahat isinya ya ga mungkin hidupnya akan penuh syukur … yang ada ya keluhan.”

Tinul: “Hmmmmm … benar Dul … tapi kali ini kamu ga boleh mengeluh lho ya kalau sampai sekarang sarapannya belum siap.”

Dul: “Weeeh lha piye tho kok … ora gek ndang masak.”

Tinul: “Mau masak piye lha dari tadi kami yang ngajak ngobrol lho ya.”

Dul: “Ya sudah masak dulu … ngobrolnya lanjutkan sambil sarapan … bisa sakit mag ini nanti kalau telat makan.”

Tinul: “Lebay … itu Dul … Met pagi … semoga Tuhan memberkati hidup dan karya kita.” (Minomartani, Minggu, 17 Juni 2018, Romo Andita)

Paroki Minomartani