April 22, 2024

Cerpen Renungan: Sadar Setelah Merasakan Akibat

[Parokiminomartani.com] –  Tinul yang pulang dari belanja sayur langsung mengambil air dalam kulkas dan minum air banyak-banyak. “Wiiiiiis Nul … jangan seperti itu kalau minum air dingin … hati-hati lho bisa tersedak nanti … pelan-pelan saja,” tegur Si Dul yang melihat Tinul minum air dingin seperti kesetanan.

Tinul sambil terengah-engah: “Biar cepat adem Dul … wis ta rasane panas semua badannya.”

Dul: “Lha jelas panas Nul … kamu pulang dari beli sayur aja bukan jalan kaki dengan santai malah lari seperti dikejar anjing gitu … ngopo.”

Tinul: “Bukan dikejar anjing Dul … tapi rasane ati yang panas.”

Dul: “Mergo hatinya yang panas terus minum air dingin seperti minum tanpa pakai gelas langsung dari botol gitu … biar hatinya dingin gitu … weleh Nul … mendinginkan hati itu dengan sareh dan sabar bukan minum air dingin … pileki ya jadinya.”

Tinul: “Coba rasakno apa yang aku rasakan pasti akan melakukan hal yang sama.”

Dul: “Lha yo wegah Nul … wegah aja pakai wegah banget … lha sebenarnya itu kena apa je.”

Tinul: “Ini gara-gara orang omong yang asal omong tidak pernah dipikir akibatnya seperti apa, padahal kan seharusnya orang itu tahu kalau apa yang dikatakan pasti bukan berakibat pada dirinya sendiri tapi pasti berakibat bagi orang lain juga … jadi ya jangan asal buka mulut.”

Dul: “Hhhhhhh … sebenarnya kita tidak akan pernah tahu apa yang kita lakukan karena tindakan kita lebih besar didorong oleh kehendak yang tiada batas. Kita hanya akan sadar perbuatan kita baik atau tidak setelah ada akibat yang kita rasakan. Maka kesetiaan dan kepatuhan kita pada kebaikan dalam bentuk apapun menjadi cara kita untuk selalu sadar pada sebab dari tindakan kita … pasti di warung tadi suasananya panas terik ya Nul.”

Tinul: “Bukan hanya panas terik tapi sudah kebakaran hutan Dul … bukan hanya membuat panas tapi juga membuat sesah nafas.”

Dul :” wis sekarang kamu ngadem di teras samping rumah sana….biar aku yang nyiapkan sarapan…”.

Tinul: “Waaah matur nuwun banget lho Dul.”

Dul: “Ga usah matur nuwun … aku hanya mengantisipasi aja … supaya nanti masakan tidak semuanya pedas … karena yang masak baru panas ati … wis sana ngadem …. Met pagi … semoga Tuhan memberkati hidup dan karya kita. (Sabtu, 13 Oktober 2018, Romo Andita)

Paroki Minomartani