April 22, 2024

Cerpen Renungan: Tuhan yang Merencanakan, Kita yang Menentukan

[Parokiminomartani.com] – Si Dul yang biasanya sembahyang di tempat ibadah di kampungnya, beberapa kali dia pergi ke tempat ibadah kampung seberang dan ternyata di sana dia berjumpa dengan banyak orang dari kampungnya yang juga sembahyang di sana. “Wah … Nul … Sarinul …. ternyata banyak orang-orang kampung kita yang sembahyang di kampung seberang lho … pantas sekarang sepi yang sembahyang di kampung kita … ngopo ya Nul?”

Tinul: “Hmmmmm … mboh Dul … Ben sak karepe mereka.”

Dul: “Apa mungkin kalau sembahyang di kampung seberang doa mereka dikabulkan ya … lha kalau dilihat tempat ibadah di kampung kita lebih nyaman lho … ga ramai … tenang … ga bising karena kendaraan.”

Tinul: “Ya yang jelas tempat kita memang sepi bukan hanya tempatnya yang sepi tapi yang sembahyang juga sepi … hanya duduk diam mlonggo … gimana GUSTI mau mengabulkan permohonannya … lha sembahyang aja ora hangat … tidak menunjukkan kalau mau ketemu GUSTI.”

Dul: “Hhhhhhhhhh … iya Nul … lha tempat aja milih di luar … lha kalau memang minta kan harusnya pilih di dalam biar makin dekap sama GUSTI … ben kelihatan sama GUSTI.”

Tinul: “Lha makanya Dul … kamu juga pikirkan baik-baik … jangan pernah kita merasa bahwa GUSTI tidak pernah merestui apa yang kita doakan… kalau kamu merasa banyak kegagalan  yang kamu alami … dengan kehidupan yang masih dianugerahkan kepada kita itu menjadi bukti kalau GUSTI masih merestui segala yang kita lakukan … soal gagal atau berhasil ya  terletak di tangan kita … bukan karena GUSTI tidak merestui.”

Dul: “Mungkin juga ya Nul … hhhhhh.”

Tinul: “Kok mungkin piye tho … lha emang iya … sekarang aku tanya … tadi itu kamu sembahyang atau tidak?”

Dul: “ya … sembahyanglah … cuma masih lihat kanan kiri ke kanan … lha banyak orang kampung kita yang sembahyang di sana kok.”

Tinul: “Podho wae Dul kamu sama dengan mereka … kalau kamu sembahyang aja tidak bener … terus doamu ga terkabul siapa yang salah?”

Dul: “Ya kamulah Nul … lha sampai sekarang belum ada sarapan kok.”

Tinul: “Hhhhhhh … sory … lha mbok ajak omong lali buat sarapan … sabar ya Dul … sabar itu bagian dari iman …  Met pagi … semoga Tuhan memberkati hidup dan karya kita. (Minomartani, Minggu, 1 Juli 2018, Romo Andita)

Paroki Minomartani