April 22, 2024

Cerpen Renungan: Memahami Ekspresi Diri

[Parokiminomartani.com] – Gombloh berdiri di depan cermin tidak melakukan apa-apa hanya melihat wajahnya. ¬†Sesekali Gombloh merubah ekspresi wajahnya kadang senyum, kadang cemberut dan kadang ekspresi marah. Tinul yang baru menyiapkan sarapan di meja melihat Gbloh seperti itu langsung mendatangi si Dul yang masih duduk di dapur sambil menikmati kopi. “Dul sini … lihat Gombloh polah tingkahnya di depan cermin seperti orang yang kurang satu ons.”

Dul: “Mana Nul … waaaaah … gawat ini … ini sudah tanda-tanda yang tidak beres.”

Tinul: “Sana dekati … tanya apa yang terjadi kok dia sampai seperti itu … kalau sampai terlihat orang dari luar waaaaah … malu kita.”

Dengan perlahan Si Dul mendekati Gombloh yang masih berdiri di depan cermin. “Mbloh sudahlah diikhlaskan saja kalau sampai sekarang Meice belum sungguh membuka hati untuk kamu … ga usah dipikirkan dalam-dalam … katanya mau menikmati penantian.”

Gombloh: “Kamu itu ngomong apa Dul … ngomong ora ditoto ga cetho gitu.”

Dul: “Lha omonganku ini aku tata dengan gramatikal menurut ejaan yang disempurnakan lho … kamu itu cengar cengir ga jelas di depan cermin …. kalau tidak karena Meice terus karena apa lagi?”

Gombloh: “Tenang Dul … soal Meice sudah aku serahkan DIA yang menanamkan benih kasih itu dalam hatiku.”

Dul: “Lhooo ya … tanda ke dua orang putus asa itu yang seperti ini … nampaknya pasrah neng iseh dipikir dan diraksakke … kepasrahan itu harus diwujudkan dengan membiarkan Meice itu bahagia menurut kehendak GUSTI.”

Gombloh: “Hhhhhhhhhh … serius ya Dul … aku itu hanya melihat ekspresi rupaku seperti apa kalau lagi senang, lagi sedih dan lagi marah … supaya bisa menunjukkan pada karyawan di kantor … biar mereka tahu apa yang ada dalam hatiku tanpa harus mengeluarkan kata-kata … gitu Dul.”

Dul: “Hmmmmm … ngerti aku sekarang Mbloh … biar komunikasi menjadi sangat efektif … seperti orang tua kita dulu … kalau mereka melihat kita sambil melotot kita tahu kalau mereka lagi marah.”

Gombloh: “Benar itu Dul … nah komunikasi itu yang hilang sekarang … lha kalau sama anak-anak sekarang kita melotot malah di bilang … mas matanya lagi sakit ya … wis jan sotoloyo tenan … nesu ke malah dikiro loro moto.”

Dul: “Hhhhhh … benar itu Mbloh …. makasih banyak ya Mbloh sarapannya.”

Gombloh: “Makasih banyak apanya?”

Dul: “Lha aku tahu kalau dari ekspresi wajahmu kamu tidak lapar dan memberikan sarapannya kepadaku.”

Gombloh: “Weeeeh ora ya kok kepenak … ora ngeleh ke aku …. Met pagi … semoga Tuhan memberkati hidup dan karya kita. (Minomartani, Jumat, 3 Agustus 2018, Romo Andita)

Paroki Minomartani