April 22, 2024

Cerpen Renungan: Pemberian Itu Sesuai Kemampuan Kita

[Parokiminomartani.com] – Melihat Si Dul yang sedang memilah ikan piaraannya Gombloh tertarik dan mendekat ingin tahu kenapa Si Dul memilah-milah ikan piaraannya. “Dul … mau dimasak untuk sarapan ya ikannya?” sapa Gombloh sambil bercanda.

Dul: “Dimasak gimana Mbloh … ikan masih kecil-kecil begini … belum layak untuk dikonsumsi.”

Gombloh: “Lha itu kenapa dipisah-pisah … yang kecil dipisah dengan yang besar … kan berarti yang besar bisa dikonsumsi … yang kecil dibesarkan lagi supaya nanti bisa dikonsumsi.”

Dul: “Bukan untuk dikonsumsi Mbloh … ini hanya aku lihat dan pilah kok bisa berbeda pertumbuhannya dan besarnya padahal dari induk yang sama dan makanan juga sama … coba kalau besarnya sama tidak berbeda-beda kan jadi panennya makin banyak.”

Gombloh: “Hhhhhhhh … ya jelas ga mungkin bisa samalah Dul … meski dari induk yang sama tapi kemampuan dan kesempatan makannya pasti berbeda … kan kalau beri makan tidak dengan porsi yang sama untuk masing masing ikan … makan hanya kamu taburkan … mereka saling berebut … siapa cepat dia yang dapat banyak.”

Dul: “Iya ya Mbloh … seperti kita juga … yang masak sama … yang dimakan sama tetapi kenapa Tinul lebih mblenuk dibanding kita … hhhhhhhhh.”

Gombloh: “Kan dia yang masak Dul … dia sudah mencicipi waktu masak … saat makam dia ikut makan juga … ya porsinya lebih dibanding yang kita makan … tapi kan ga ada yang protes dari kita bertiga tho … karena semua sesuai dengan jatah dan porsinya Dul.”

Dul: “Emang Mbloh kalau semua itu berjalan sesuai dengan apa yang menjadi haknya … apa yang menjadi porsinya hidup itu jadi enak lho … tapi kalau sudah ada iri dan dengki pada porsi orang lain ya pasti persoalan yang akan terjadi dan ga akan ada damai lagi.”

Gombloh: “Seharusnya seperti itu Dul … karena GUSTI itu memberi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita … kalau kita bisa menerima itu ya pasti akan damai hidup kita.”

Dul: “Benar Mbloh,” sambil ngomong si Dul menyrutup kopi tubruk Gombloh yang ada disampingnya.

Gombloh: “Bener … bener … tapi ora njuk nyrutup kopiku.”

Dul: “Hhhhhhh … kan sesuai kebutuhan Mbloh … pagi ini aku butuh dua gelas kopi tubruk.”

Gombloh: “Lha yo ngawe dhewe … bocah gemblung.”

Met pagi … semoga Tuhan memberkati hidup dan karya kita. (Minomartani, Kamis, 14 2018, Romo Andita)

Paroki Minomartani